![]() |
| I always love rains |
Niat awalnya saya ingin meng-upload tugas-tugas multimedia ke blog ini tapi berhubung ternyata butuh waktu yang lama dan perjuangan yang lumayan butuh kesabaran untuk upload video dengan kapasitas sekitar 500 MB, jadi daripada bosan menunggu saya iseng membuat postingan ini.
Saya bukan ingin bercerita tentang hujan atau kenapa saya selalu sengan jika hujan datang, tapi inilah hal yang saya pikirkan di tengah hujan deras yang mengguyur selama saya dalam perjalanan pulang ke rumah sore tadi. Saya hanya ingin berbagi pikiran, yang semoga bisa menjadi bahan renungan dan cerminan untuk diri kita masing-masing, sudahkah kita mensyukuri segala hal yang telah kita miliki saat ini...?
Hari ini jadwal saya bisa dikategorikan 'padat merayap', pergi dari rumah pagi-pagi untuk menghindari kemacetan, menuju kampus tercinta untuk kerja kelompok (yang kebanyakan diisi dengan ngobrol ngaler-ngidul), lanjut menjadi pelatih tari untuk upacara adat acara wisuda-an yang tinggal beberapa hari lagi dan lumayan melelahkan, setelah itu bergegas menuju cimahi, rumah murid les saya yang baru. Saya datang 20 menit lebih awal dari jadwal yang ditentukan, karena saya pikir ini hari pertama saya mulai memberi privat ke anak tersebut, kesan pertama tentu harus sangat baik dan salah satunya dengan tidak datang terlambat. Alamat yang diberikan pihak manajemen privat agak kurang jelas, akibatnya saya harus 2 kali bolak-balik menyusuri jalan yang sama sampai akhirnya menemukan alamat yang dimaksud dan kemudian mendapati rumah yang kosong dan pagar yang digembok. Bingung langsung menyergap, langit juga sudah nampak kurang bersahabat mendung menggelayut, ditengah kebingungan orangtua anak les saya itu memberi kabar bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah, dan saya diminta menunggu. Cukup lama saya menunggu, 30 menit jadi terasa sangat lama dan membosankan apalagi untuk saya yang tidak sabaran dan sangat membenci hal yang namanya 'tunggu-menunggu' ditambah disana tidak ada yang bisa dijadikan sebagai tempat duduk, jadilah saya menunggu dengan berdiri sambil terus berdoa langit tidak 'mengguyur' saya dengan air hujannya, kalau bukan karena ingat tanggungjawab mungkin saat itu juga saya langsung pulang ke rumah. Setelah 30 menit menunggu, mereka sampai juga, setelah berkenalan dan basa-basi sebentar tanpa membuang waktu saya langsung memberikan materi kemudian lanjut pembahasan soal. Waktu selama 120 menit berlalu saya lewati dengan lancar, bercuap-cuap layaknya penjual yang menawarkan barang dagangannya di pasar, begitu juga saya bercuap-cuap menerangkan materi dan berusaha sekuat tenaga menarik perhatian anak itu supaya perhatiannya tetap fokus yang kadang-kadang masih dikalahkan oleh suara notifikasi BB, sampai waktunya saya untuk pulang. Begitu saya keluar pagar, saat itu pula langit menumpahkan seluruh isinya ke bumi, hujan turun dengan sangat deras ditambah petir dan kilat yang menyambar-nyambar bergantian, dan angin pun tak mau kalah untuk turut ambil bagian berhembus dengan cukup kencang. Hingga jadilah saya pulang menyusuri jalanan komplek itu menuju jalan raya yang jaraknya terasa makin jauh ditengah guyuran hujan yang sangat deras ditambah angin kencang dan petir, saya hanya sendiri, basah kuyup (walaupun saya menggunakan payung), kedinginan, menghadang jalanan yang mulai banjir, dan ditambah perut yang mulai lapar (saya baru tersadar, sejak pagi belum ada makanan yang masuk ke lambung saya untuk dicerna karena saya lupa,,kebiasaan buruk). Selama perjalanan menuju jalan raya itulah saya merasakan bahwa ternyata mencari uang tidak mudah dan saya selama ini tidak pernah mau ambil peduli dengan hal itu sampai sekarang saya merasakannya sendiri. Hari ini saya dibuat merenung dan merasa malu atas sikap saya selama ini yang ternyata belum mensyukuri dan menghargai segala hal yang Tuhan berikan untuk saya.
Saya malu karena saya mungkin termasuk orang yang cukup boros dan kurang menghargai uang, berapapun uang yang orang tua saya berikan pada saya, pasti habis dan kadang saya tidak tahu kemana saja saya belanjakan. Saya malu sekaligus merasa sangat berdosa pada orangtua karena secara tidak langsung saya tidak menghargai kerja keras, keringat, kesabaran, bahkan mungkin air mata mereka untuk mendapatkan uang tersebut. Saya malu, karena diusia saya yang seharusnya sudah mandiri dan tidak tergantung pada orangtua secara finansial, nyatanya masih dengan mudah menengadahkan tangan untuk sekedar meminta uang jajan, atau pernah merengek karena permintaan untuk membeli barang yang saya inginkan (padahal tidak terlalu saya butuhkan) tidak mendapatkan persetujuan mama untuk pencairan dana. Malu dan merasa sangat berdosa, saat saya kadang juga masih mengeluh karena merasa jatah uang saya kurang, sementara mungkin di luaran sana masih ada orang-orang yang sekedar mencari uang untuk kebutuhan makan mereka saja sudah sangat sulit. Saat saya kadang masih kurang menghargai sulitnya mencari uang dengan mudah mengeluarkan uang untuk sekedar membeli barang yang sebetulnya tidak saya butuhkan, sementara di luaran sana mungkin masih ada orang yang harus kerja keras bermandi keringat bahkan mungkin sampai meneteskan air mata untuk sekedar mendapatkan beberapa rupiah saja yang jika dibandingkan dengan kebutuhannya pastilah tidak akan mencukupinya. Saya malu, malu karena mendapati diri saya yang ternyata masih belum bisa mensyukuri dan menghargai segala hal, khususnya rizki yang telah Tuhan berikan kepada saya. Saya malu mendapati diri saya ternyata masih kufur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan. Sampai akhirnya hari ini Tuhan membuat saya merenung, perenungan yang timbul setelah rangkaian kejadian yang sederhana yang sebenarnya bukan hal istimewa. Ya, rangkaian kejadian yang sederhana dan sebenarnya tidak istimewa, saya dibuat belajar menahan ego dan berusaha bersabar dengan harus melakoni hal yang sangat saya benci yaitu menunggu dengan cara menunggu murid les saya datang selama 30 menit lamanya tanpa bisa duduk, saya belajar bagaimana berusaha dan untuk tidak putus asa dengan cara melalui usaha saya bercuap-cuap selama hampir 120 menit, tidak putus asa menarik perhatian murid saya mengalihkan perhatiannya dari layar BB. Saya belajar bahwa segala sesuatunya membutuhkan pengorbanan dan kadang akan terasa berat untuk dilalui, pengorbanan yang mungkin lebih dari sekedar harus basah kuyup diguyur hujan deras, rasa lapar dan kedinginan atau waktu saya yang tersita karena menunggu.
Melalui rangkaian kejadian yang sederhana dan sebenarnya tidak istimewa itulah, Tuhan dengan segala caranya telah berhasil membuat saya merenung dan belajar tentang banyak hal khususnya akan rasa syukur, agaknya hari ini tetesan air hujan yang turun dengan derasnya yang turun ke bumi dan tanpa sengaja 'nyasar' turut membasahi kepala saya membuat pikiran saya agak sejuk dan mungkin juga membersihkan otak saya jadi lebih bersih dan jadi terbuka melihat hikmah-hikmah dan pelajaran yang terdapat di balik setiap kejadian, sesederhana apapun itu (itulah kenapa saya selalu suka hujan). Alhamdulillah, terimakasih Tuhan, sekarang saya akan berusaha untuk menjadi orang yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang Engkau berikan. : )
-ela-


No comments:
Post a Comment